KEHADIRAN WAHABI BUKANLAH BID'AH

KEHADIRAN WAHABI BUKANLAH BID'AH
Oleh: Nashrul Mukmin

Assalaamu'alaikum wr. wb

Di beberapa postingan khususnya postingan dari teman-teman ASWAJA yg menuliskan kalau kehadiran/kemunculan WAHABI adalah merupakan salah satu bentuk dari KEBID'AHAN.

Melalui postingan saya kali ini saya mencoba untk meluruskan pandangan tersebut berdasarkan versi saya yg merujuk kepada sabda Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Menurut pandangan saya kemunculan WAHABI bukanlah salah satu bentuk dari kebid'ahan, namun kehadiran mereka (Wahabi) di tengah tengah ummat Islam adalah merupakan wujud atau bukti dari kebenaran Sabda Rosululloh saw.

Dalam sebuah hadits Kanjeng Nabi Muhammad saw telah bersabda sebagaimana yg saya kutipkan terjemahnya berikut ini:
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri Ra berkata :
“Saat Rasulullah saw sedang membagi-bagikan ghanimah (rampasan perang), datanglah seseorang dari Bani Tamim dengan pakaian yang pendek (bagian bawahnya), di antara kedua matanya ada tanda bekas sujud yang menghitam , lalu iaberkata:
“Berbuat adillah wahaiRasulullah!”
Rasulullah Saw bersabda:
“Celakalah engkau, siapa yang akan berbuat adil jika aku tidak berbuat adil? Maka engkau akan binasa dan rugi jika aku sendiri tidak berlaku adil.”
Lalu Rasulullah Saw bersabda:
“Akan datang suatu kaum kelak seperti dia, baik perkataannya, tapi buruk
kelakuannya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk. Mereka mengajak kepada Kitabullah, tetapi mereka sendiri tidak mengambil darinya sedikitpun. Mereka membaca Al Quran, tetapi tidak melebihi kerongkongannya. Kalian akan mendapatkan bacaan Al-Qur’an mereka lebih baik dari kalian dan shalat dan puasa mereka lebih baik dari kalian . Mereka akan melesat meninggalkan Islam sebagaimana anak panah melesat dari busurnya. Mereka mencukur kepala serta mencukur kumisnya, pakaian mereka hanya sebatas setengah betis
mereka .”

Setelah Rasulullah Saw menjelaskan
ciri-ciri mereka, Rasulullah Saw
bersabda:
“Mereka akan membunuh para pemeluk Islam dan melindungi penyembah berhala!”
[Diriwayatkan dalam kitab: Bukhari fi kitab dad’ al- Khalq Bab "Alamah An-Nubuwwah", An- Nisai’ fi khasa-is hal 43, 44, Muslim fi Kitab Az-Zakah Bab At-Tahdzir Min Zinah Ad-Dun-ya, Musnad Imam Ahmad juz I hal 78, 88, 91].
Semoga dg penjelasan ini, tdk ada lagi dari teman-teman Aswaja yg membid'ahkan atas kemunculan WAHABI ditengah tengah ummat Islam, namun berdasarkan dari cari-ciri fisiknya kemunculan WAHABI adalah sebagai bukti dan wujud dari kebenaran atas apa yg telah disabdakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad saw.
Demikian penjelasan saya. Semoga ada manfaatnya

BENARKAH WAHABI ADALAH SALAFI???

BENARKAH WAHABI ADALAH SALAFI???

Oleh: Nashrul Mukmin


Dalam bukunya yang berjudul As-Syalafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarokah La Madzhab Islami, Prof. Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi mengungkapkan, Wahabi mengubah strategi dakwahnya dengan mengganti nama menjadi Salafi karena mengalami banyak kegagalan dan merasa tersudut dengan panggilan Wahabi yang dinisbatkan kepada pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab. Oleh karena itu, sebagian muslimin menyebut mereka sebagai Salafi Palsu atau mutamaslif.

Menurut buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, penggunaan nama Salafi untuk Wahabi, sehingga sekte ini sekarang dikenal dengan nama Salafi Wahabi, pertama kali dipopulerkan oleh salah seorang ulama Wahabi yang bernama Nashiruddin al-Albani, seorang ulama yang dikenal sangat lihai dalam mengacak-acak hadist, dan juga seorang ahli strategi.

Penggunaan nama salafi, sehingga kini Wahabi menjadi Salafi Wahabi pun wajib dipertanyakan, karena salafi merupakan sebuah bentuk penisbatan kepada as-salaf yang jika ditinjau dari segi bahasa bermakna orang-orang yang mendahului atau hidup sebelum zaman kita.
Sedang dari segi terminologi, As-Salaf adalah generasi yang dibatasi oleh penjelasan Rasulullah Saw dalam sabdanya;

“Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di masaku, kemudian yang mengikuti mereka (tabi’in), kemudian yang mengikuti mereka (tabi at-tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi, berdasarkan hadist ini, as-salaf adalah:

1. Para sahabat Rasulullah Saw,
2. Tabi’in (pengikut Nabi setelah masa sahabat)
3. Tabi’ut-tabi’in (pengukut Nabi setelah masa tabi’in, termasuk di dalamnya para imam mazhab karena mereka hidup di tiga abad pertama setelah Nabi saw. wafat).

Maka jangan heran jika dalam bukunya as-Syalafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarokah La Madzhab Islami, Prof. Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi menyebut kalau sebagian muslimin menyebut Salafi Wahabi sebagai Salafi Palsu atau mutamaslif.
Demikian, semoga ada manfaatnya

KEPADA SIAPAKAH SEKTE WAHABI HARUS DINISBATKAN???

KEPADA SIAPAKAH SEKTE WAHABI HARUS DINISBATKAN???
Oleh: Nashrul Mukmin

Assalaamu'alaikum wr. wb

Pada beberapa waktu yg lalu bahkan sampai sekarang di dumay sempat beredar postingan dari teman-teman WAHABI baik di blog maupun media sosial lainnya yg mencoba menuliskan sejarah asal usul serta penisbatan WAHABI sebagai berikut:
"Pendiri Wahabi adalah Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum wafat 211 H. Bukan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab wafat 1206 H."
Dengan bebrapa tulisan tersebut maksud dan tujuan dari penulisnya mungkin mencoba utk memutus mata rantai sejarah kelam yg sdh terlanjur melekat kepada pendiri WAHABI yaitu Muhammad Bin Abdul Wahab.
Tampaknya mereka mencoba mengelabuhi ummat agar ummat islam tdk terus menerus mengungkit ungkit kembali sejarah kelam tersebut.

Namun sungguh sangat disayangkan , sehebat apapun upaya mereka utk menghapus sejarah tersebut niscaya akan selalu kandas disebabkan oleh pengakuan para tokoh-tokohnya yg dengan jelas dan bangganya para tokoh tersebut membenarkan bahwa sekte WAHABI dinisbatkan kepada Muhammad Bin Abdul Wahab bukan kepada Abdurrahman bin Rustum.

Berikut ini saya kutipkan pengakuan para tokoh WAHABI yg membenarkan penisbatan nama WAHABI kepada Muhammad Bin Abdul Wahab:

1. Berikut fatwa dari Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz:

اَلْوَهَّابِيَّةُ مَنْسُوْبَةٌ إِلَى الشَّيْخِ الْإِمَامِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ رَحِمَهُ اللهُ اَلْمُتَوَفَّى سَنَةَ 1206 هـ
AL-WAHHAABIYYAH dinisbatkan kepada Syeikh Imam Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullaah- yang wafat tahun 1206 H

2. Sulaiman bin Sahman memberikan Judul pada kitab karangannya dg judul:
"Al-Hadiyyah al-Saniyyah wa al-Tuhfah al-Wahhabiyyah al-Najdiyyah (Hadiah yang Luhur dan Anugerah kaum Wahhabi Najed)"
Ulama Wahabi tsb dg tanpa merasa malu menisbatkan WAHABI kepada ulama yg berasal dari Najd. Siapakah ulama yg dimaksud?? Tdk lain dan tdk bukan tentulah Muhammad Bin Abdul Wahab.

3. Pemuka Wahhabi di Qatar, Ahmad bin Hajar Al Buthami Al bin Ali menulis sebuah buku berjudul "as Syekh Muhammad ibn Abdil Wahhab ‘Aqidatuh as Salafiyyah Wa Da’watuh al Islamiyyah" yang mana buku ini diedit dan sebarluaskan oleh pemuka Wahabi lainnya, yaitu “Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz”. Dicetak tahun 1393 H, penerbit Syarikat Mathabi’ al Jazirah.

Pada halaman 105, ia dengan bangga memakai dan menuliskan nama Wahhabi :

فلما التقى الوهابيين في مكة
“ Ketika bertemu dengan orang-orang Wahabi di Mekah…”
Juga menuliskan:

استطاع الوهابيون أن يقيموا الدولة الإسلامية على أساس من المبادئ الوهابية
“… orang-orang Wahabi mampu mendirikan Dawlah Islamiyyah di atas dasar ajaran-ajaran Wahabiyah”.

Kemudian juga menuliskan:
ولكن الدعوة الوهابية“Akan tetapi dakwah Wahabi…

Juga menuliskan:

يدينون الإسلام على المذهب الوهابي
“ Meraka (orang-orang Wahabi) beragama Islam di atas madzhab Wahabi...”.

4. Ulama Wahhabi lainnya bernama Dr Muhammad Khalil Al-Harras secara terang benderang menggunakan nama Wahhabi didalam kitab karyanya yaitu "Al- Harakatul Wahhabiyah (Gerakan Wahhabi)" .

Contoh penggunakan Wahhabi didalam kitabnya :
Pada halaman 11 disebutkan :
ﺍﺳﺲ ﺍﻟﺤﺮﻛﺔ ﺍﻟﻮﻫﺎﺑﻴﺔ“ Dasar-dasar gerakan Wahhabi...”

Halaman 14 disebutkan :
ﺍﻟﺤﺮﻛﺔ ﺍﻟﻮﻫﺎﺑﻴﺔ ﺗﺪﻋﻮ ﺍﻟﻲ ﺗﻮﻛﻴﺪ ﺍﻟﺘﻮﺣﻴﺪ“..gerakan Wahhabi menyeru kepada menguatkan tauhid ...”

Halaman 17 dan masih banyak lagi disebutkan :
ﺍﻟﺤﺮﻛﺔ ﺍﻟﻮﻫﺎﺑﻴﺔ ﺗﺪﻋﻮ ﺍﻟﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺭﺑﻬﺎ“..gerakan Wahhabi menyeru kepada jalan Tuhan nya...”.

Selain diatas, sangat banyak kitab-kitab ulama Wahabi yang mengakui penamaan Wahhabi untuk dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab An-Najdi, diantaranya:

1, Syaikh Muhammad Hamid Al Fiqi dalam kitab Atsarud Da’watil Wahhabiyah.
2, Syaikh Umar Abu Nashri dalam kitab Ibnu Sa’ud.
3, Syaikh Muhammad Kurdi Ali dalam kitab Al-Qadim wal Hadits.
4, Syaikh Muhammad Jamil Baiham dalam kitab al-Halqah al-Mafqudah fi Tarikh Arab.
5, Syaikh Abdul Karim Al-Khathibi dalam kitab Muhammad ibn Abdil Wahhab. 6, Dan lain sebagainya.

Dengan demikian maka menjadi Jelas dan gamblang bahwa kalau yg disebut WAHABI adalah Muhammad Bin Abdul Wahab bukan Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum.
Demikian sekilas penjelasan tentang penisbatan WAHABI.
Semoga ada manfaatnya.

SALAHKAH DAN SIAPA YANG SALAH??????

SALAHKAH DAN SIAPA YANG SALAH??????

Oleh: Nashrul Mukmin


- Salahkah bila berdoa tidak bertawasul?????

TIDAK SALAH. YANG SALAH ITU BILA MENSYIRIK-SYIRIKKAN ORG YG BERTAWASUL.
Sebab org yg bertawasul itu berusaha utk mengamlakn Firman Alloh :
"Hai orang-orang yang beriman. patuhlah kepada Alloh, dan carilah jalan --yang mendekatkan--kepada-NYA, dan berjuanglah di jalan Alloh supaya kamu beruntung." Al-Qur'an Suroh Al-Maidah :35

- Salahkah bila tidak ziarah kubur?????
TIDAK SALAH. YANG SALAH ITU BILA MEMUSYRIK-MUSYRIKKAN ORG YG ZIARAH KUBUR
Sebab org yg berziarah kubur itu sdg beruasaha utk melaksanakan perintah Rosululloh saw dalam sabdanya:
"Dahulu aku telah melarang kalian berziarah ke kubur. Namun sekarang, berziarahlah kalian ke sana." (H.R. Muslim)

- Salahkah bila tidak Yaasiinan dan Tahlilan?????
TIDAK SALAH. YANG SALAH ITU BILA MEMBID'AH-BID'AHKAN ORG YG YAASIINAN DAN TAHLILAN

Karena yg mengamalkan Yaasiinan dan Tahlilan sdg berusaha utk melaksanakan perintah Kanjeng Nabi Muhammad saw dalam sabdanya:
"Barang siapa yg menolong saudaranya yg meninggal dunia dengan bacaan-bacaan (kalimatut thoyyibah) dan dzikir (laa ilaaha illalloh) Alloh mengabulkan nya dan dia (simati) dimasukkan ke dalam surga."
"Bershodaqohlah atas diri kalian dan atas orang-orang yg meninggal dunia dari kalian walaupun hanya dengan seteguk air.
Apabila kalin tdk mampu mengadakan yang demikian itu maka bershodaqohlah dengan ayat-ayat Al-Qur'an.
Apabila kalian tdk mengetahuinya dari ayat-ayat Al-Qur'an maka doakanlah dengan memintakan ampun serta memintakan rohmat Alloh swt. Maka sungguh Alloh mengabulkan doa kalian" (HR. Ad-Darimy dan Nasa-i dari Ibnu Abbas)
Termaktub dlm Kitab Al-Tahqiqat, juz III. Sunan an-Nasa’i, juz II dan Kitab Tanqih al-Qaul hlm:28.

- Salahkah bila tidak memperingati Maulid Kanjeng Nabi Muhammad saw???
TIDAK SALAH. YANG SALAH ITU BILA MENGKUFUR-KUFURKAN ORG YG MEMPERINGATI MAULID KANJENG NABI MUHAMMAD SAW.

Karena org yg memperingati Maulid Kanjeng Nabi Muhammad saw sdg berusaha utk melaksankan Firman Alloh swt: “Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira’.” (QS Yunus: 58)

- Salahkah bila tidak bertabaruk ?????
TIDAK SALAH. YANG SALAH ITU BILA MENSESAT-SESATKAN ORG YG BERTABARUK
Karena org yg bertabaruk itu sedang beruasaha utk melakukan apa yg telah dibenarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad saw, sebagaimana dalam hadits berikut ini:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عِنْدَنَا فَعَرِقَ وَجَاءَتْ أُمِّي بِقَارُورَةٍ فَجَعَلَتْ تَسْلِتُ الْعَرَقَ فِيهَا فَاسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ مَا هَذَا الَّذِي تَصْنَعِينَ قَالَتْ هَذَا عَرَقُكَ نَجْعَلُهُ فِي طِيبِنَا وَهُوَ مِنْ أَطْيَبِ الطِّيبِ

Dari Anas bin Malik, ia berkata : “Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam masuk menemui kami lalu beliau tidur siang dan berkeringat. Kemudiaan ibuku datang membawa botol lalu memasukkan keringat Nabi ke dalam botol tersebut.Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- pun akhirnya terbangun dan bertanya, “Wahai Ummu Sulaim !, apa yang kamu lakukan ?”
“Ini adalah keringatmu yang aku campurkan pada wewangianku. Keringat ini adalah wewangian paling harum,” jawab Ummu Sulaim. (HR. Muslim)

Dalam riwayat Ishaq Ibn Abi Tholhah, Ummu Sulaim menjawab :

قالت نرجو بركته لصبياننا فقال أصبت
“Kami berharap keberkahannya untuk anak-anak kami,” maka Rosululloh bersabda : “Engkau benar “.

STOP PERSELISIHAN HARGAI PERBEDAAN

STOP PERSELISIHAN HARGAI PERBEDAAN

Oleh: Nashrul Mukmin

Assalaamu'alaikum warohmatullohi wa barokaatuhu
Dalam suatu dialog , diskusi atau obrolan baik di dunia nyata maupun di dunia maya kita sering dihadapkan kepada beberapa pertanyaan seperti berikut ini:

- Salahkah bila kita berdoa tidak bertawasul?????
- Salahkah bila kita tidak ziarah kubur?????
- Salahkah bila kita tidak Yaasiinan dan Tahlilan?????
- Salahkah bila kita tidak memperingati Maulid Kanjeng Nabi Muhammad saw???
- Salahkah bila kita tidak bertabaruk ?????

Pertanyaan tersebut dimunculkan sangat boleh jadi karena memang benar-benar didasari oleh keingin tahuan sipenanya, yg sehingga ia berharap untuk mendapatkan penjelasan yg mendasar.
Namun yg sering terjadi pertanyaan itu dimunculkan oleh orang yg anti terhadap beberapa amaliah tsb sebagai bentuk penolakan secara halus sekaliagus untuk mencari celah agar dapat menyalahkannya .

Pada kesempatan kali ini saya mencoba untuk menanggapi masalah tersebut sebatas yg saya fahami dg harapan semoga dg tanggapan saya ini nantinya bisa menjadi salah satu masukan serta pertimbangan bagi siapapun yg pernah, yg ingin, yg akan menanyakan beberapa pertanyaan tersebut.

TANGGAPAN SAYA ADALAH:

Sesungguhnya tidaklah salah org yg tdk mengamalkan dari kesemuanya itu selagi mereka tdk menyalah-nyalahkan, membid'ah-bid'ahkan, mensyirik-syirikkan, mensesat-sesatkan, mengkufur-kufurkan terhadap org yg mengamalkannya.

Mengapa demikian?????

Alasannya adalah:
Karena semua bentuk amaliah tersebut tdklah diwajibkan dan juga tidak terlarang dalam syariat islam NAMUN yg ada adalah berupa anjuran dari Alloh dan Rosul-NYA..

Karena amaliah tsb tdk diwajibkan dan juga tidak terlarang NAMUN BERUPA ANJURAN dalam syariat islam maka merupakan kesalahan fatal dan akan menimbulkan permasalahan yg berkepanjangan pada saat ada segolongan kaum yang memvonis kepada kelompok yg lain dg vonis SALAH, BID'AH, SYIRIK, SESAT, KUFUR baik terhadap kelompok yg mengamalkannya maupun yg tdk mengamalkannya.

Demikian sekilas paparan saya .
Semoga dg paparan saya yg singkat ini bisa menjadi kontribusi yg bisa sedikit meredam terjadinya konflik yg berkepanjangan terkait dengan perselisihan atas beberapa bentuk amaliah yg telah saya sebutkan di atas.
Semoga ada manfaatnya

SIAPA YG SEBENARNYA TELAH MENYEKUTUKAN ALLOH ????

SIAPA YG SEBENARNYA TELAH MENYEKUTUKAN ALLOH ????
Oleh: Nashrul Mukmin

Assalaamu'alaikum wr. wb

Kalau ASWAJA saat berdoa dengan bertawasul, Aswaja meyakini kalau sesuatu yg dijadikan TAWASUL itu , baik yg masih hidup maupun yg sdh wafat, baik berupa amal maupun yg lainnya, kesemuanya itu tdk mampu memberikan "kemanfaatan" (mengabulkan doa) apapun dalam doanya, namun yg memberikan "kemanfaatan"(mengabulkan doa) hanyalah Alloh swt.

Tetapi kalau menurut WAHABI , sesuatu yg dijadikan sebagai tawasul tsb dianggap atau diyaqini bisa memberikan kemanfaatan atas doa yg dipanjatkan. Dengan kata lain yg mampu memberikan memberikan kemanfaatan (mengabulkan doa) dalam doa selain Alloh swt juga sesuatu yg dijadikan TAWASUL itu sendiri.

Dari uraian saya di atas dapat dilihat dg jelas, siapa yg sebenarnya dalam doanya yg telah menyekutukan Alloh dan siapa yg hanya menyandarkan semuanya hanya kepada Alloh semata.
Namun anehnya WAHABI justru yg sering mensyirik-syirikkan Aswaja yg dalam berdoa dg bertawasul yg berkeyakian kalau hanya Alloh swt semata yg mampu memberikan kemanfaatan(mengabulkan doa) atas doa yg dipanjatkannya.

Apa yg saya uraikan di atas saya paparkan berdasarkan dari hasil diskusi yg telah saya lakukan dg beberapa pengikut WAHABI selama ini baik di dunia maya maupun di dunia nyata.

Demikian. Semoga ada manfaatnya

BENARKAH WAHABI SALAFI MENGIKUTI MANHAJ ULAMA SALAF????

BENARKAH WAHABI SALAFI MENGIKUTI MANHAJ ULAMA SALAF????
Oleh: Nashrul Mukmin

Assalaamu'alaikum wr. wb,
Pertanyaan sebagaimana judul status saya di atas sering menggelitik fikiran kita setelah melihat realita dalam prakteknya yg ternyata para pengikut Wahabi Salafi tidak sesuai dengan apa-apa yg telah difatwakan oleh para ulama Salafus Sholih.
Sebagai bukti dari statmen saya tersebut, berikut ini saya kutipkan beberapa fakta yg berseberangan antara yg difatwakan oleh para ulama Salaf dengan yg dilakukan oleh para pengikut Wahabi Salafi.

Beberapa di antaranya adalah:
1. Kaum Salafi Wahabi menganggap bahwa membaca al-Qur’an di kuburan adalah bid’ah dan haram hukumnya, sementara Imam Syafi’I & Imam Ahmad menyatakan boleh dan bermanfaat bagi si mayit  (lihat Fiqh as-Sunnah, Sayyid Sabiq, juz 1, hal. 472).

Bahkan Ibnul-Qayyim(rujukan Kaum Salafi) menyatakan bahwa sejumlah ulama salaf berwasiat untuk dibacakan al-Qur’an di kuburan mereka
(lihat Ar-Ruh, Ibnul Qayyim al-Jauziyah, hal. 33).

2. Kaum Salafi Wahabi berpendapat bahwa bertawassul dengan orang yang sudah meninggal seperti Rasulullah Saw.atau para wali adalah bid’ah yang tentunya diharamkan, padahal para ulama salaf (seperti: Sufyan bin ‘Uyainah, Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’I, Imam Ahmad, Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Thabrani, dan lain-lainnya) membolehkannya, bahkan mereka juga melakukannya dan menganjurkannya.

3. Kaum Salafi Wahabi tidak mau menerima pembagian bid’ah menjadi dua (sayyi’ah/madzmumah & hasanah/mahmudah) karena menurut mereka setiap bid’ah adalah kesesatan, padahal Imam Syafi’I (ulama salaf) telah menyatakan pembagian itu dengan jelas, dan pendapatnya ini disetujui oleh mayoritas ulama setelah beliau.

4. Kaum Salafi Wahabi seperti sangat alergi dengan hadis-hadis dha’if (lemah), apalagi yang dijadikan dasar untuk mengamalkan suatu amalan yang mereka anggap bid’ah, padahal ulama salaf seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Mahdi menganggap hadis-hadis dha’if sebagai hujjah dalam hukum. sedangkan para ulama hadis telah menyetujui penggunaan hadis-hadis dha’if untuk kepentingan fadha’il a’mal (keutamaan amal).
(Lihat al-Ba’its al-Hatsis, Ahmad Muhammad Syakir, Dar al-Kutub al-’Ilmiyah, Beirut, hal. 85-86).

5. Para ulama salaf tidak pernah mengharamkan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. atau yang lainnya sebagaimana yang difatwakan kaum Salafi & Wahabi sebagai bid’ah tanpa dalil terperinci.
Padahal ibnu taimiyah (imam nya kaum salafy wahabi) dalam kitab nya Iqtidha’ as-Sirath al-Mustaqim hal.269 menyatakan bahwa; "Mereka yang mengagungkan maulid mendapat pahala besar karena tujuan baik dan pengagungan mereka kepada Rasulullah Saw...”

6. Para ulama salaf tidak pernah memandang sinis terhadap orang yang tidak sependapat dengan mereka, dan mereka juga tidak mudah-mudah memvonis orang lain sebagai ahli bid’ah, apalagi hanya karena perbedaan pendapat di dalam masalah furu’ (cabang). Imam Ahmad yang tidak membaca do’a qunut pada shalat shubuh tidak pernah menuding Imam Syafi’I yang melakukannya setiap shubuh sebagai pelaku bid’ah.

Masih banyak hal-hal lain yang bila ditelusuri maka akan tampak jelas bahwa antara pemahaman kaum Salafi & Wahabi dengan para ulama salaf tentang dalil-dalil agama sungguh jauh berbeda.